komunikasi dakwah

Diposting oleh indonesia itu indah kawan on 18.17 komentar (0)

Jalan dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah SAW selama ini adalah dakwah yang mengedepankan keteladanan dan nasihat yang baik. Dakwah yang dikedepankan dalam ajaran Islam adalah dakwah yang menyejukkan hati setiap orang. Poin penting yang juga dijalani Rasulullah dalam berdakwah adalah mengedepankan empati.
Konteks penyampaian ayat-ayat Allah SWT berangkat dari persoalan yang dihadapi masyarakat. Rasul juga selalu mampu merasakan persoalan yang dihadapi umatnya. Perasaan empati ini akan membuat dakwah menjadi lebih mengena. Rasa empati juga akan membuat juru dakwah bisa memahami situasi yang sedang dihadapi objek dakwahnya.
”Pemahaman seperti ini sangatlah penting, supaya materi dakwah yang disampaikan bisa benar-benar menjawab persoalan yang tengah dihadapi publik. Kesalahan dalam memahami situasi dan perasaan audiens bisa membuat dakwah seseorang mengundang resistensi, ” ujar Husain Matla penulis buku ‘Dakwah dengan Cinta’.
Menurut Husain, ada dakwah yang disampaikan dengan lisan, ada pula dakwah yang berlangsung dengan perbuatan. Dakwah dengan lisan tak harus dimaknai sebagai ceramah yang melibatkan massa dalam jumlah banyak. Husain menambahkan, perbincangan seseorang dengan orang lain juga bisa menjadi bagian dari dakwah.
Orang yang menyampaikan dakwah, kata dia, bisa diibaratkan sebagai orang dewasa. ”Yang mendasar dari model ini adalah bahwa orang dewasa selalu menjadikan kasih sayang sebagai dorongan utama dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Komunikasi yang dilandasi kasih sayang, akan jauh dari amarah, egoisme, maupun pemaksaan,” jelasnya.
Lebih jauh Husain menyatakan, seorang juru dakwah tidak boleh merasa lebih pandai dari orang yang menerima dakwah. Perasaan bahwa dirinya lebih pandai dibanding orang yang menerima dakwah, lanjut dia, akan membuat juru dakwah menjadi cenderung memaksakan kehendak dan tidak mengundang simpati. ”Sebaliknya, nihilnya beban intelektual akan membuat seorang juru dakwah menjadi lebih rendah hati dan bersikap terbuka menerima masukan dari orang lain,” cetusnya.
Kendati tidak boleh merasa cerdas, kata Husain, seorang juru dakwah tetap dituntut untuk menyusun argumentasi yang runut dan cerdas. Hal ini akan sangat membantu audiens dalam memahami dan mencerna materi dakwah yang diterimanya. ”Argumentasi yang cerdas juga akan membuat kebenaran yang disampaikan menjadi lebih meyakinkan,” jaminnya.
Sekretaris Yayasan Pendidikan Tinggi Dakwah Islam Jakarta, Sulthon Dja’far, mengungkapkan, dakwah harus tampil dengan wajah sejuk dan damai melalui penekanan peningkatan kualitas akhlak mulia yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. ”Secara esensial, memang dakwah muncul dengan pendekatan mengajak, bukan menghakimi, apalagi bernuansa provokasi,” jelasnya.
Sulthon menambahkan, para juru dakwah harus mampu mengemas ajaran Islam secara sistemik sebagai sebuah materi dakwah. Pemahaman sistematik ini, lanjut dia, dapat dibangun melalui penghayatan dan pemahaman ajaran Islam secara holistik dan komprehensif dari berbagai aspek ajaran Islam yang mencakup aspek akidah, aspek ibadah, aspek akhlak dan aspek muamalah.
Pada bagian lain mantan Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia KH A Kholil Ridwan mengingatkan, seorang ulama atau juru dakwah yang terjun ke dunia politik haruslah meniatkan langkahnya itu demi lancarnya dakwah Islam dan terjaminnya pelaksanaan syariat Islam di negeri ini. ”Karena itu seyogyanya kalangan ulama bersatu dan bersama-sama menghadapi tokoh-tokoh politik yang tidak mengemban misi dakwah Islam,” cetusnya.
Menurut Kholil, seorang ulama yang berpolitik pada hakikatnya adalah melaksanakan sunah Rasulullah. Hanya saja dalam melaksanakan politiknya berpedoman dan berpegang pada ajaran dan contoh-contoh yang dilakukan oleh Rasulullah. Misalnya, Rasulullah berangkat dari penegakkan akidah, baru kemudian Rasulullah berhijrah untuk menghimpun kekuatan dan akhirnya untuk memperoleh kekuasaan.
Akhirnya Rasulullah berhasil menaklukkan musuh-musuh Islam. Umat Islam bisa leluasa shalat dengan menghadap ke Kabah, dan pelaksanaan ibadah haji pun dapat dilakukan dengan leluasa, karena penguasa sebelumnya kaum kafir Quraisy bisa ditaklukkan. ”Tugas ulama sekarang ini adalah meneruskan perjuangan Rasulullah, agar pelaksanaan dakwah semakin lempang dan syariat Islam bisa dijalankan seluruhnya,” tegas Ridwan.
Sementara, staf pengajar Universitas Negeri Jakarta, Aziz Ritonga mengingatkan, seorang ulama yang terjun ke dunia politik haruslah lebih baik dalam segala hal dibanding politisi lainnya. Ia dituntut untuk mampu menyelaraskan antara kata dan perbuatannya, dan semua itu harus ia mulai dari dirinya sendiri.

media dakwah majalah dan tv

Diposting oleh indonesia itu indah kawan on 18.09 komentar (0)

Sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang akselerasi dengan perkembangan kehidupan manusia sebagaimana telah tersebut, maka penggunaan media untuk berdakwah juga mengalami perkembangan. Dakwah yang pada awalnya hanya menggunakan media tradisional, kemudian berkembang menjadi lebih banyak alternatifnya yaitu dengan menggunakan sentuhan-sentuhan teknologi modern, baik melalui media cetak (buku, koran, majalah, tabloit dan lain-lain) maupun dengan media elektronik (radio, televisi, film, VCD, internet dan lain sebagainya). Perkembangan media dakwah dengan teknologi modern ini menuntut semua pihak, khususnya aktifis dakwah untuk senantiasa kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi dimaksud guna kemaslahatan umat manusia.
Salah satu media modern yang memiliki beberapa kelebihan, dan telah dijadikan sebagai media dakwah, yang akan menjadi fokus pembahasan pada tulisan ini adalah media televisi. Televisi sebagai salah satu hasil karya teknologi komunikasi memiliki berbagai kelebihan, baik dari sisi programatis maupun teknologis. Dilihat dari sisi dakwah, media televisi dengan berbagai kelebihan dan kekuatannya seharusnya bisa menjadi media dakwah yang efektif jika dikelola dan dipergunakan secara profesional. Karena dakwah melalui media televisi memiliki relevansi sosiologis dengan masyarakat, mengingat pemirsa televisi di Indonesia mayoritas beragama Islam. Selain itu secara ekonomis, dakwah melalui media televisi sebenarnya juga mempunyai pangsa pasar yang potensial jika digarap secara profesional pula.
Televisi sejak awal kehadirannya di Indonesia, mulai dari Televisi Republik Indonesia (TVRI) tahun 1962, yang telah memonopoli siaran televisi di Indonesia hampir 3 (tiga) dasawarsa, sebenarnya telah ikut serta dalam kegiatan dakwah. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Keppres. Nomor 215 Tahun 1963, pasal 4 (empat), bahwa tujuan didirikannya TVRI adalah sebagai alat hubungan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan mental spiritual, fisik bangsa dan negara Indonesia. Maka khususnya untuk melaksanakan tujuan sebagai alat pembangunan mental spiritual ini, TVRI minimal 1 (satu) kali dalam seminggu menyiarkan “Mimbar Agama”, yang terdiri dari semua agama yang ada di Indonesia, termasuk di dalamnya program “Mimbar Agama Islam”.
Kemudian ketika muncul beberapa televisi swasta mulai dari RCTI (1989) disusul SCTV (1989), TPI (1991), AN-Teve (1993), Indosiar (1995) dan sekitar tahun 2000-an muncul beberapa televisi swasta seperti Metro TV, Trans TV, La-TV, Global TV dan beberapa TV Daerah lainnya, siaran-siaran dakwah juga masih ada. Ceramah-ceramah keagamaan di waktu subuh, Peringatan Hari Besar Islam dan acara-acara bernuansa Islam, khususnya di bulan ramadhan ditayangkan televisi. Hal ini merupakan bukti bahwa televisi sebenarnya juga telah memberikan kontribusi terhadap kegiatan dakwah. Namun di balik bukti dan pengakuan itu masih sering muncul pertanyaan dari kita (masyarakat muslim), khususnya para aktifis dakwah, yang mempertanyakan tentang : Pertama, mengapa siaran dakwah di televisi durasi tayangnya hanya sedikit (rata-rata sekali tayang hanya 30 menit) dan tidak sebanding dengan acara-acara lain. Kedua, mengapa jam tayang acara dakwah di televisi kebanyakan hanya pada pagi hari (jam 05.00), bukankah pada jam-jam itu kemungkinan sasaran dakwahnya masih tidur atau mungkin masih memiliki kesibukan lain untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Kalaupun ada penonton, kemungkinan penonton acara dakwah ini mereka yang sebenarnya dari sisi agama sudah mapan, yaitu mereka yang sudah terbiasa bangun pagi dan mau melakukan sholat subuh, tetapi bagaimana terhadap sasaran dakwah lain. Ketiga, mengapa siaran dakwah di televisi hanya marak pada bulan ramadhan. –Bahkan untuk Ramadhan 1430 H saat ini sangat minim acara-acara televisi yang bernuansa dakwah- Dan mungkin masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang mempersoalkan siaran dakwah di televisi. Untuk membahas itu, penulis mencoba untuk mengurai problematika siaran dakwah di televisi dari perpektif bisnis media. Sehingga nantinya diharapkan muncul solusi yang tepat untuk mengatasi problematika tersebut.

C. Problematika Siaran Dakwah di Televisi Perspektif Bisnis Media
Untuk mengatasi problematika siaran dakwah di televisi memang bukan pekerjaan yang mudah, dan tidak hanya bisa menyalahkan pihak televisi yang selama ini terasa sangat kurang dalam menyiarkan agama Islam. Seluruh umat Islam sebenarnya secara tidak langsung juga telah mempunyai andil dalam terjadinya kekurangan siaran dakwah di televisi.
Pengelola stasiun televisi memang memiliki andil dalam menentukan seberapa besar volume dan jam tayang siaran dakwah. Karena dilihat dari segi politik informasi menurut Dedy Jamaludin Malik bahwa siaran dakwah sebenarnya hanyalah suplemen dan komponen kecil dari politik penyiaran televisi. Pengelola televisi sebenarnya tidak mempunyai target untuk membentuk masyarakat yang religius. Kalaupun sekarang televisi menayangkan siaran agama Islam, bisa jadi itu hanya untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa televisi juga mempunyai komitmen terhadap masalah keagamaan.
Ada persoalan yang harus diketahui dan difahami bahwa televisi-televisi swasta yang ada sekarang ini didirikan tidak bisa lepas dari kepentingan profit oriented, sehingga kebijakan siaran juga tidak bisa lepas dari unsur “bisnis”, yaitu pertimbangan untung dan rugi, dan di balik semua kepentingan politik penyiaran muaranya juga masalah bisnis. Sehingga siaran dakwah yang di tayangkan televisi harapannya juga menjadi komoditas dari sebuah produk yang layak jual.
Termasuk, kenapa siaran dakwah di televisi pada bulan ramadhan bertambah volumenya ? Hal ini juga tidak bisa lepas dari kepentingan bisnis pengelola televisi dan pemasang iklan, yakni menggunakan moment ramadhan untuk menjual produk-produk yang dibutuhkan umat Islam pada bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri melalui acara-acara yang bernuansa Islam yang dibuatnya. Sehingga tanpa terasa, sebenarnya umat Islam telah “dicekoki” oleh televisi dengan budaya konsumerisme yang sangat berlawanan dengan ruh ibadah puasa itu sendiri.
Perlu diketahui pula bahwa setiap “jengkal waktu”, mulai dari jam, menit hingga detik bagi televisi (khususnya swasta) mempunyai nilai jual (uang) ke pemasang iklan, dan satu waktu dengan waktu yang lain (jam, menit hingga detik) mempunyai nilai harga jual yang berbeda, tergantung rating acara yang disiarkan. Rating acara ini ditentukan berdasarkan seberapa besar minat penonton televisi terhadap acara tertentu. Sehingga dengan asumsi jika suatu acara televisi itu “bagus” maka acara itu akan diminati oleh orang banyak, dan iklan yang ditayangkan di acara itu juga ditonton orang banyak, sehingga produk yang ditawarkan di iklan tersebut juga mempunyai kemungkinan untuk dibeli oleh orang banyak. Disinilah berlaku hukum timbal balik atau sebab akibat secara ekonomis dan saling menguntungkan antara pihak produser (Production House), televisi dan pemasang iklan

ayat ayat dakwah

Diposting oleh indonesia itu indah kawan on 17.57 komentar (0)

Dakwah Adalah Tugas Paling Mulia
Sebagai Rasulullah yang terakhir, Nabi Muhammad SAW membawa risalah yang dialamatkan kepada seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman:

“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui”.(Q.S. Assaba’/34: 28)
Sebagai pembawa risalah Allah, beliau ditugaskan menjadi saksi dan da’i bagi seluruh umat manusia. Dan sebagai da’i beliau bertugas memberikan kabar gembira dan peringatan, sehingga dapat menjadi cahaya yang menerangi kehidupan mereka. Allah SWT berfirman:
“ Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”. (Q.S. Al-Ahzab/33: 45-46)
Semenjak diangkat menjadi Rasul, sampai ajalk datang menjemput, Rasulullah SAW telah menjalankan tugasnya berdakwah menyampaikan Risalah Islam dan membimbing umat ke jalan Allah. Tugas itu diteruskan oleh para sahabat, tabi’Indonesia, tabiit-tabi’Indonesia dan generasi seterusnya sampai generasi kit sekarang ini.
Tugas dakwah adalah tugas rasul sebelumnya. Dalam hal ini Allah SWT menyatakan:

“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(Q.S. Fushshilat/41: 33)


Kewajiban Berdakwah
Dakwah adalah kewajiban setiap muslim, baik individual maupun kolektif. Allah berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.(Q.S. Ali Imran/3: 104)
Jika min dalam ayat di atas (minkum) adalah min bayaniyah, maka dakwah menjadi kewajiban setiap orang (individual), tapi jika min itu adalah min tab’idhiyyah (menyatakan sebagian) maka dakwah menjadi kewajiban kolektif umat atau fardhu kifayah. Kedua perngertian itu dapat digunakan sekaligus. Untuk hal-hal yang mampu dilakukan secara individual (fardhu ‘ain), sedangkan untuk hal-hal yang bisa dilakukan secara kolektif, maka dakwah menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Setiap orang wajib berdakwah, baik secara aktif maupun secara pasif. Secara pasif dalam arti diri dan kehidupannya dapat menjadi contoh hidup dari keluhuran dan keutamaan ajaran Islam.

Kewajiban setiap individu berdakwah, disamping dinyatakan oleh ayat di atas juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW. Setelah menyampaikan pesan-pesan penting dan mendasar dalam Haji Wada’, Rasulullah bersabda:

Artinya: “Maka hendaklah yang menyaksikan diantara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadi, karena boleh jadi yang hadir itu menyampaikannya kepada orang yang lebih dalam mempertahatikannya daripada sebagian yang mendengarkannya”. (H.R. Bukhari)

Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW menegaskan:

Artinya: “Sampaikanlah yang (kamu terima) dariku, walaupun satu ayat” (H.R. Bukhari)
Salah satu ayat yang dapat menyelamatkan manusia dari kerugian adalah apabila mereka mau saling mengingatkan (berdakwah) dengan kebenaran dan kesabaran. Allah berfirman:

“Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(Q.S. Al-Ashri: 1-3)

Sasaran Dakwah
Sasaran dakwah atau mad’u dapat dikategorikan berdasarkan beberapa faktor. Dari segi iman, mad’u dibagi menjadi dua, yang sudah beriman (disebut umat ijabah) dan yang belum beriman (disebut umat dakwah). Yang pertama dengan target meningkatkan keimanan dan keislamannya, dan kedua dengan target mengajaknya masuk Islam. Dari segi status sosial-ekonomi, mad’u terbagi menjadi kelompok elite (malak) dan kelompok lemah dan tertindas (dhu’afa’ dan mustadh’afin).  Dalam sejarah dakwah yang dilakukan para Nabi, kelompok elite lebih sulit menerima dakwah dibandingkan dengan kelompok lemah. Perhatikan dalam beberapa ayat berikut ini bagaimana komentar kaum elite tatkala diajak oleh Nabi Nuh menyembah Allah SWT.

“Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (Dia berkata): "Sesungguhnya Aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan". Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".(Q.S. Hud/11: 25-27)
Kaum elite menolak dakwah karena takut kehilangan hak-hak “istimewanya” yang didapat dengan cara-cara yang zalim (seperti Fir’aun, Qarun, Haman, Ruhban dalam kasus Nabi Musa A.S, Umayyah ibn Khalaf dan Abu Lahab dalam kasus Nabi Muhammad SAW), sedangkan kaum dhu’afa merasa senang menerima dakwah karena hak-haknya akan diperjuangkan. Namun demikian, dalam prakteknya, kelompok lemah tidak dapat segera masuk Islam karena ada hambatan dari kelompok elite dengan segala macam cara (ingat kasus Bilal, dan keluarga Yaser pada zaman Nabi Muhammad SAW). Di samping dua kategori di atas, mad’u juga dapat dibagi berdasarkan kategori jenis kelamin, umur, pendidikan dan lain sebagainya. Kategorisasi seperti itu diperlukan untuk menentukan metode dan pendekatan yang tepat sasaran.

Metode Dakwah
Salah satu faktor penentu keberhasilan dakwah adalah metode yang tepat. Rasulullah SAW sangat berhasil dalam berdakwah karena beliau dapat menyampiakan persan yang tepat kepada orang yang tepat dengan cara yang tepat pada waktu yang tepat. Dalam bahasa Al-Qur'an metode yang tepat itu adalah bil hikmah, wal-mauizhah al-hasanah seperti dalam firman Allah berikut ini:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. An-Nahl/16: 125)
Bil Hikmah, artinya bin-nash wal-‘aqli (menggunakan nash dan akal). Dakwah tetap mengacu kepada nash(Al-Qur'an dan Sunnah) tapi menggunakan akal dalam menentukan pemilihan terhadap nash mana yang akan disampaikan lebih dahulu (menyangkut tahapan dan silabi dakwah), bagaimana menyampaikannya (media dan cara yang digunakan) yang sesuai dengan kadaan sasaran dakwah.
Dalam menentukan tahapan dakwah misalnya sebagian ahli membuat lima tahapan dakwah: (1) Tahapan penyampaian pesan (marhalah tabligh); (2) Tahapan pengajaran (marhalah ta’lim); (3) Tahapan pembinaan (marhalah takwin); (4) Tahapan pengorganisasian (marhalah tanzhim); (5) Tahapan pelaksanaan (marhalah tanfizh).
Dalam tahapan-tahapan di atas dapat kita lihat bahwa tabligh adalah merupakan tahap awal dari kegiatan dakwah secara keseluruhan. Untuk dapat berhasil mengajak  mad’u memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupannya masih diperlukan lagi beberapa tahap berikut setelah tabligh. Sungguh sangat keliru kalau seorang da’i menganggap tabligh adalah satu-satunya cara, atau menjadikan tabligh terlepas sama sekali dari tahapan lainnya. Oleh sebab itu kegiatan dakwah tidak dapat dilakukan secara sendirian, tapi harus bersama-sama (berujama’ah atau berorganisasi) sehingga tahapan-tahapanj dakwah tersebut dapat dijalankan secara terencana dan bertahap.
Dakwah secara berjama’ah atau berorganisasi diisyaratkan juga oleh ayat berikut ini:
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(Q.S. Yusuf/12: 108)
Sedangkan penentukan media yang digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan fasilitas yang ada serta kebutuhan dan kemampuan penerimaan sasaran dakwah. Apakah akan menggunakan media tradisional (ceramah dan khutbah) atau multi media baik elektronik maupun audiovisual.
Apapun metode yang diikuti, selain mempertimbangkan efektifitas dan efesensi, tidak boleh dilupakan bahwa semua metode yang digunakan tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan nash Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dalam berdakwah sekalipun, tujuan tidak menghalalkan cara.
Yang dimaksud dengan al-maui’zhah hasanah adalah pelajaran yang baik. Seluruh ajaran Islam adalah maui’zhah, baik yang disebutkan secara eksplisit dalam nash Al-Qur'an dan As-Sunnah maupun yang dipahami dari kandungan maksudnya. Semua perintah, larangan, petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah maui’zhah hasanah. Tetapi, kalau pesan-pesan suci itu disampaikan dalam bahasa manusia, maka kalimat-kalimat yang digunakan, gaya bahasa yang dipakai, bahkan intonasi dan nada bicara (jika disampaikan secara lisan), haruslah dikemas dengan sebaik-baiknya, sehingga pesan-pesan itu dapat diterima dengan baik. Pelajaran yang baik kalau disampaikan dengan kalimat-kalimat dan gaya bahasa yang kasar dan menyakitkan, tentu saja tidak akan produktif, malah berakibat sebaliknya yaitu kontra produktif.
Jika dalam berdakwah harus menggunakan metode debat atau polemik, baik internal umat Islam, apalagi eksternal dengan orang-orang yang belum beragama Islam, maka lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Al-Qur'an  menyatakan, wajâdilhum billati hiya ahsan.  Sasaran jidâl atau mujâdalah  dalam ayati ini bersifat umum, bisa muslim (umat ijabah) dan bisa juga non muslim (umat dakwah). Siapapun yang diajak atau mengajak berdebat, berdebatlah atau berpolemiklah dengan cara yang sopan, santun, argumentatif, dan hindarilah kata-kata dan sikap yang melukai perasaan lawan debat. Carilah kelemahan argumentasi lawan debat, bukan kelemahan pribadinya. Jika yang diserang adalah kelemahan pribadi, maka mujâdalah sudah bergeser dari mencari kebenaran, menjadi mencari kemenangan. Sekalipun pribadi kita diserang oleh lawan debat, tetapi tetaplah konsisten memegang prinsip, jangan terpancing. Seorang muslim yang baik, apalagi seorang da’i, tidaklah diajarkan membalas keburukan dengan keburukan pula, tapi balaslah dengan kebikan.
Akhlaq Da’i
Sebagai pribadi yang menyampaikan ajaran yang mulia, dan mengajak orang menuju kemuliaan, tentulah seorang da’i harus memiliki al-akhlaq al-karîmah yang terlihat dalam seluruh aspek kehidupannya. Dia harus memiliki sifat-sifat mulia baik dalam kepastiannya sebagai pribadi Muslim secara umum, maupun sebagai da’i secara khusus. Seorang da’i haruslah memiliki sifat sidiq, amanah, sabar, tawadhu’, ‘adil, lemah lembut dan selalu ingin meningkatkan kualitas amal ibadahnya kepada Allah SWT dan sifat-sifat mulia lainnya.
Lebih dari pada itu, kunci utama keberhasilan dakwah seorang da’i adalah satunya  kata dan perbuatan. Salah satu sebab utama keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah karena perbuatan beliau selalu sejalan dengan apa yang dikatakan. Allah mengancam seorang da’i atau siapapun saja yang perbuatannya tidak sejalan dengan perkataanya, atau hanya bisa berkata tapi tidak mau berbuat.”
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S. Ash-Shaf/61: 2-3)
Seorang da’i haruslah konsisten, istiqamah di dalam jalan dakwah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW –yang tentunya juga berlaku untuk umatnya. Allah berfirman:
“Maka Karena itu Serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah[1343] sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".(Q.S. Asy-Syura/42: 15).

menjadi dai yang profesional

Diposting oleh indonesia itu indah kawan on 17.49 komentar (0)

Siapa yang menyatakan bahwa dai bukan sebagai sebuah profesi,  saya rasa sudah saatnya untuk dikoreksi.  Dai yang memiliki kemampuan  andal dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan,  ternyata bisa menjadi profesi yang membanggakan bahkan juga menghasilkan uang yang cukup memadai. Tentu  bukan uang sebagai ukuran profesi dai, akan tetapi menjadi dai ternyata bisa sebagai sebuah usaha yang memiliki makna ganda, yaitu menjadi penyebar agama dan sekaligus sebagai ladang untuk menghasilkan uang.
Dai sebagai profesi,  sebenarnya dikembangkan oleh Dai sejuta umat, KH. Zainuddin MZ. Pada tahun 1990-an, maka beliau adalah dai  pertama yang “go nasional”  melalui usaha-usahanya yang sangat gigih. Tidak hanya sebagai dai dari panggung ke panggung, akan tetapi juga berdakwah lewat teknologi modern, yang kala itu menggunakan medium kaset. Ratusan ribu bahkan jutaan  keping kaset yang dijual  dengan tema-tema dakwah yang sangat variatif.
Di antara keunggulan Dai sejuta umat ini adalah pada kemampuan retorikanya yang sangat hebat. Melalui kemampuan retorika yang dipadukan dengan intonasi dan gaya bahasa serta kemampuan humor yang cerdas, maka membuat nama Zainuddin MZ, dikenal sebagai dai kondang dan merajai blantika dakwah di era itu. Sayangnya kemudian beliau tertarik ke dalam dunia politik dan ternyata tidak menguntungkan secara individual  maupun komunal. Meskipun beliau masih eksis hingga sekarang, akan tetapi cakupan pengaruhnya tidak seperti sebelum memasuki dunia politik.
Pada era tahun 2000-an, kemudian  muncullah dai-dai professional yang menghiasi jagad penyiaran agama di Indonesia. Era digital (televisi) yang memang berkorelasi  dengan nuansa peningkatan kesadaran agama di dalam  struktur pemerintah, social dan politik, maka kebutuhan penyiaran agama menjadi meningkat luar biasa.  Muncullah dai seperti Aa Gym, Yusuf Mansur, Jefri al- Bukhari, Arifin Ilham, Ust Danu  dan sebagainya, yang menjadi ikon dai di Indonesia. Mereka menggunakan modalitas yang variatif untuk mengembangkan model dakwahnya. Misalnya, Arifin Ilham menggunakan medium dzikir  sambil menangis untuk model dakwahnya, Ust Danu menggunakan modalitas pengobatan untuk mengembangkan model dakwahnya, dan sebagainya.  Masing-masing memiliki ciri khas untuk implementasikan dakwahnya.
Bahkan juga tidak hanya dai-dai dengan level nasonal, akan tetapi juga kemudian muncullah kecenderungan untuk “go internasional.”  Dari Surabaya, kemudian muncul nama Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz dari IAIN Sunan Ampel,  yang kemudian menjadi dai internasional. Melalui jaringan antar kedutaan  Indonesia di berbagai negara, maka beliau lalu bisa menjelajah belantara dakwah di dunia internasional.  Hongkong, Jepang, Belanda, Inggris, Negara-negara Afrika Muslim,  Iran dan banyak lagi,  telah beliau kunjungi untuk kegiatan dakwah. Semua ini tentu menandakan bahwa menjadi dai bukan sekedar pekerjaan yang  tidak professional, akan tetapi telah menjadi bagian dari dunia profesi.
Sebagai profesi, maka tentu ada sekurang-kurangnya tiga hal yang harus dikuasai, yaitu pengetahuan tentang profesinya, sikap yang terkait dengan profesinya dan keterampilan yang berkaitan dengan profesinya.  Jadi tentu dibutuhkan kemampuan penguasaan materi agama Islam yang  sangat baik, kemudian sikap dan penghargaan terhadap dakwah yang dilakukannya dan kemudian kemampuan teknis yang menyangkut metodologi dan tehnik dakwah yang memadai.
Saya kemarin, 22/09/2010  mengikuti acara halal bil halal di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.  Saya sangat tertarik dengan dainya itu, KH. A’ad Ainurus  Salam. Selain sebagai dai, beliau memiliki Rumah Yatim, MI dan pesantren.  Di dalam kartu namanya,  beliau sebutkan bahwa profesinya adalah Pelayan Umat. Tentu saja bukan ungkapan genit, jika Beliau menulis pekerjaannya seperti itu.  Sebab kenyataannya memang beliau menjadi pelayan di dalam menyampaikan ajaran agama Islam kepada umat. Di dalam agama Nasrani disebut sebagai “Penggembala Umat.”
Yang menarik dari Gus A’ad adalah kemampuannya untuk memadukan antara  retorika dakwah dengan kemampuan bermusik.  Kemampuan retorika yang sangat baik disertai dengan gesture dan humor yang sangat segar, sehingga membuat para pendengarnya tidak terasa bahwa waktu dakwahnya sudah cukup lama. Selain itu, juga dipadukan dengan musik yang  sangat baik. Kemampuan beliau menyanyi saya rasa tidak kalah dengan kemampuan penyanyi yang sudah go publik. Tidak hanya itu, beliau juga memiliki kemampuan berjoget yang indah tanpa disertai tindakan yang seronok.
Menurut saya, bahwa kemampuan ekspressi dalam menyanyikan lagu-lagu kasidah dan juga musik dangdut sungguh sangat baik. Ketika menyanyikan lagu-lagu yang sedih, maka ekspresi wajahnya juga menunjukkan ekspresi kesedihan dan ketika menyanyikan lagu riang, maka diikuti dengan gerakan-gerakan yang melambangkan lagunya itu. Lagu-lagu itu dipadukan dengan pesan-pesan dakwah yang sedang dibicarakannya.  Maka menjadi cocok antara materi dakwah dengan lagu-lagu yang dinyanyikannya. 
Saya tentu menjadi teringat dengan Rhoma Irama yang menjadi ikon atau raja penyanyi dangdut Indonesia. Beliau adalah master di dalam berdakwah dengan musik. Melalui beliau kemudian muncul nama-nama seperti Kyai Ma’ruf Islamuddin, dan kemudian juga Gus Aat yang sedang saya bicarakan ini.
Dakwah, ternyata memang membutuhkan berbagai sentuhan. Dan salah satu sentuhan yang menarik adalah dakwah sambil bermusik. Manusia memang membutuhkan keduanya. Melalui dakwah,  maka manusia diajak kembali kepada rel ajaran agama.  Dan  melalui music,  maka  manusia diajak untuk memenuhi hasrat keindahan dan kenikmatan.  Oleh karena itu, maka ketika ada seorang dai yang memiliki dua hal tersebut, maka dia akan disenangi di dalam dakwahnya.
Gus A’ad, saya rasa adalah dai yang memiliki keduanya itu. Maka pantaslah jika dalam satu hari harus manggung dampai tiga kali.  Tentang berapa honornya, maka sebaiknya ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan.
Wallahu a’lam bi al shawab

tokoh-tokoh sufi

Diposting oleh indonesia itu indah kawan on 19.21 komentar (0)

Assalamu'alaikum,

Berikut ini adalah tokoh-tokoh yang sangat besar jasanya bagi Islam. Urutan foto tidak mempengaruhi tingkat keshalehan dan ketinggian ilmu masing-masing. Semoga apa yang ada disini bisa lebih memotivasi kita untuk meningkatkan kecintaan kita kepada ilmu dan para ulama.





Muhammad Rasulullah SAW
 Komentar 




Imam Syafi'i (150 H - 204 H)
 Komentar 




Ibnu Katsir
  




Ibnu Taymiyah
  




Nashiruddin Al Albani
 Komentar 




Shaikh Bin Baz
 Komentar 




Dr. Yusuf Al Qaradawi
 Komentar 




Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
  




Sayyid Sabiq
  




Muhammad Mustafa al-A'zami
 Komentar 




Sheikh Abderrahman Soudaiss
 Komentar 




Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni
 Komentar 




Dr.Tariq Al Suwaidan
 1 Komentar 




Sheikh Ahmed Deedat
 Komentar 




Dr. Zakir Naik
 Komentar 




Hasan Al Banna
 Komentar 




Sheikh Ahmed Yassin
 Komentar 




Harun Yahya or Adnan Oktar
 Komentar 




Syed Naquib Al-Attas
 1 Komentar 




Yusuf Islam or Cat Stevens
 1 Komentar 




Malcolm X ( 1925 - 1965 )
 Komentar 




Imam Rashed Alafasy
 Komentar 




Ismail Raji Al-Faruqi
  




Musthafa As Siba’i