ANEKA CARA BERDAKWAH
''Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makrufdan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.''(QS. Ali Imran, 3 : 104)
Intinya dari keterutusan para Rasul SAW adalah menyampaikan pesan (dakwah) Tuhan kepada para mahluk. Nabi manapun pasti memiliki tugas berdakwah, yakni menyampaikan ajaran Tuhan kepada umatnya masing-masing. Maka,demikian pun Islam sampai kepada umatnya,Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun di gua Hira, ia memiliki kewajiban baru,yakni berdakwah.
Sepeninggalan Rasulullah,para Sahabat yang telah menerima Islam sebagai karunia teragung dalam hidupnya,juga memiliki kewajiban untuk terus mendakwahkanya kepada mahluk2 lain, ke wilayah yang lebih luas yang dapat dijangkau oleh mereka.
Para pengikut sahabat (tabi'in) dan para pengikut tabi'in, para mujahid dan imam cendikiawan Muslim kemudian mendakwahkan islam secara turun temurun. Semakin lama semakin luas dan semakin hari semakin beragam cara-caranya dakwahnya.
Beratus-ratus tahun kemudian, gema dakwah Islam juga terdengar hingga pantai-pantai di kepulauan Nusantara. Dari wilayah pesisir ini kemudian Islam terus menelusup ke setiap lekuk lembah pendalaman pulau. Atas jasa mereka, para dai atau muballigh agama Allah, maka kita dapat merasakan betapa nikmatnya merengkuh anugerah Islam,sebagai inti dakwah terakhir kenabian Rasulullah SAW.
Keragaman cara dakwah,telah dikenal sejak zaman Nabi Nuh AS sebagaƬmana terekam dalam firman Allah,''Sesungguhnya, ketika aku (Nuh) berdakwah kepada umatku agar mendapatkan pengampunan, maka mereka menutupkan jari-jari ke telinganya... ... maka aku pun menyeru dg keras, kemudian dg lembut. Ku katakan pada mereka,'Minta ampunlah pada Tuhanmu,sesungguhnya Ia Maha Pengampun.'' (QS.Nuh,71:7-10)
Selain membentuk pasukan tempur yang tangguh, Rasulullah Muhammad SAW juga mengutus para diplomat ke berbagai penjuru kekuasaan utk mengajak mereka menuju jalan kebenaran. Demikian pula para khalifah sesudahnya,banyak sekali metode dakwah dikembangkan melalui akademi-akademi ilmiah maupun popularitas tokoh-tokoh.
Metode penerjemahan karya-karya tulis para sarjana Muslim ke berbagai bahasa dunia merupakan cara dakwah ilmiah. Sementara seseorang yang menyeru ke Jalan Allah dengan menjadi Tabib (dukun) disebut cara populer. Dua cara ini merupakan kunci keberhasilan dakwah Islam di samping cara-cara militer(perang)***
Intinya dari keterutusan para Rasul SAW adalah menyampaikan pesan (dakwah) Tuhan kepada para mahluk. Nabi manapun pasti memiliki tugas berdakwah, yakni menyampaikan ajaran Tuhan kepada umatnya masing-masing. Maka,demikian pun Islam sampai kepada umatnya,Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun di gua Hira, ia memiliki kewajiban baru,yakni berdakwah.
Sepeninggalan Rasulullah,para Sahabat yang telah menerima Islam sebagai karunia teragung dalam hidupnya,juga memiliki kewajiban untuk terus mendakwahkanya kepada mahluk2 lain, ke wilayah yang lebih luas yang dapat dijangkau oleh mereka.
Para pengikut sahabat (tabi'in) dan para pengikut tabi'in, para mujahid dan imam cendikiawan Muslim kemudian mendakwahkan islam secara turun temurun. Semakin lama semakin luas dan semakin hari semakin beragam cara-caranya dakwahnya.
Beratus-ratus tahun kemudian, gema dakwah Islam juga terdengar hingga pantai-pantai di kepulauan Nusantara. Dari wilayah pesisir ini kemudian Islam terus menelusup ke setiap lekuk lembah pendalaman pulau. Atas jasa mereka, para dai atau muballigh agama Allah, maka kita dapat merasakan betapa nikmatnya merengkuh anugerah Islam,sebagai inti dakwah terakhir kenabian Rasulullah SAW.
Keragaman cara dakwah,telah dikenal sejak zaman Nabi Nuh AS sebagaƬmana terekam dalam firman Allah,''Sesungguhnya, ketika aku (Nuh) berdakwah kepada umatku agar mendapatkan pengampunan, maka mereka menutupkan jari-jari ke telinganya... ... maka aku pun menyeru dg keras, kemudian dg lembut. Ku katakan pada mereka,'Minta ampunlah pada Tuhanmu,sesungguhnya Ia Maha Pengampun.'' (QS.Nuh,71:7-10)
Selain membentuk pasukan tempur yang tangguh, Rasulullah Muhammad SAW juga mengutus para diplomat ke berbagai penjuru kekuasaan utk mengajak mereka menuju jalan kebenaran. Demikian pula para khalifah sesudahnya,banyak sekali metode dakwah dikembangkan melalui akademi-akademi ilmiah maupun popularitas tokoh-tokoh.
Metode penerjemahan karya-karya tulis para sarjana Muslim ke berbagai bahasa dunia merupakan cara dakwah ilmiah. Sementara seseorang yang menyeru ke Jalan Allah dengan menjadi Tabib (dukun) disebut cara populer. Dua cara ini merupakan kunci keberhasilan dakwah Islam di samping cara-cara militer(perang)***
0 komentar:
Posting Komentar